GUS IPUL JADI WAGUB (2)

Maret 29, 2009 at 3:39 pm Tinggalkan komentar

Cerita Dibalik Pelantikan Soekarwo-Saifullah Yusuf (2)

karwo

Friday, 13 February 2009 7:27

Surabaya (GP-Ansor): Pelantikan Soekarwo-Saifullah Yusuf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim berlangsung dalam sidang istimewa DPRD Jatim di Gedung Grahadi Surabaya, Kamis (12/2/2009). Penyematan tanda jabatan oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima jabatan dari pemegang jabatan lama kepada pejabat baru.

Terlihat hadir dalam ruang sidang, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, Menteri Pertanian Anton Apriantono, serta Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh. Hadir pula beberapa gubernur, yakni Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad. Terlihat pula Ketua Umum Partai Amanat Nasional Sutrisno Bachir dan tokoh Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid.

Pengamanan di luar gedung biasa, terbilang tak terlalu ketat meskipun polisi disiagakan di beberapa sudut Gedung DPRD.

Selepas Menteri Dalam Negeri Mardiyanto melantik pasangan gubernur dan wakil gubernur baru Jawa Timur, ribuan orang mulai dari simpatisan parpol, ulama, hingga politikus tampak memadati Gedung Grahadi. Mereka ingin menyaksikan pasangan gubernur dan wakil gubernur baru Soekarwo serta Saifullah Yusuf. Di hari penobatan mereka, tamu undangan dan para simpatisan mengelu-elukan Pakde Karwo (panggilan akrab Soekarwo) dan Gus Ipul (panggilan akrab Saifullah Yusuf).

Namun di saat gegap gempita kebahagiaan, menyeruak di halaman Grahadi, Manan (45), tukang becak di Jalan Wonokromo tampak bercucuran keringat menunggu datangnya penumpang di tengah terik matahari. Satu jam menunggu di atas sadel, tak satu pun penumpang datang mendekati becak Manan.

Sebagai masyarakat biasa, kemeriahan pelantikan pemimpin baru Jawa Timur tak terlalu berpengaruh pada Manan. “Saya tau pelantikan gubernur baru dari koran. Katanya, Pak Karwo jadi Obama baru,” tuturnya sambil tertawa polos.

Saat ditanya apa harapan Manan dengan terpilihnya Pakde Karwo dan Gus Ipul, ia langsung menjawab, “Semoga enggak ada obrakan becak. Mau gimana lagi, saya cuma bisa mbecak seperti ini,” tambah Manan.

Menurut Manan, dengan pendapatan yang tak pasti ia harus mencukupi kebutuhan lima anggota keluarganya. Karena itu, dengan terpilihnya gubernur dan wakil gubernur baru Manan berharap harga kebutuhan pokok dapat ditekan, biaya kesehatan tak mahal, serta biaya pendidikan untuk ketiga anaknya lebih longgar.

Sopir mikrolet, Mansyur (48), mengharapkan pimpinan pemerintah Jawa Timur baru mampu membatasi jumlah sepeda motor yang semakin menjamur dan menimbulkan kemacetan di Kota Surabaya. Pasalnya, dalam lima tahun terakhir pendapatannya turun hingga 50 persen karena penumpang semakin jarang dan kemacetan kian menggila.

Harapan lain juga muncul dari Muhadi (43), pedagang sayur Pasar Wonokromo yang kini sulit mengais keuntungan karena harga kebutuhan pokok naik turun tak stabil. Dalam dua minggu terakhir, harga beberapa kebutuhan pokok bahkan naik mulai dari 20 persen hingga 100 persen.

Harga bahan bakar minyak (BBM) turun tapi harga bahan pokok justru naik. “Kami tak berharap banyak selain harga bahan pokok yang stabil,” ucapnya.

APBD untuk rakyat

Secara terpisah, dalam orasi serah terima jabatan Gubernur Provinsi Jawa Timur 2009-2014, Kamis (12/2) di Gedung Grahadi, Soekarwo menegaskan kembali misinya APBD untuk rakyat. Dalam misi tersebut, pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf (KarSa) ingin menerapkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, khususnya mereka yang miskin melalui paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat (people centered development approach).

Dalam paparannya, Karwo menangkap sinyal melalui kehidupan masyarakat Jawa Timur yang sederhana, miskin, dan tersingkir terpancar lambang daya juang orang-orang terpinggirkan. “Mereka keponthal-ponthal hidupnya di bawah bayang-bayang ketidakpastian memenuhi makanan tiga kali sehari, membiayai sekolah anak, berobat ke puskesmas saat sakit, tidur lelap, mendapatkan air bersih, dan bepergian dengan nyaman ke berbagai wilayah,” ujarnya.

Karwo menyadari, realitas seperti ini sebagian muncul karena mereka terpinggirkan dalam proses kebijakan pemerintah. Berbekal keprihatinan tersebut, pasangan KarSa optimistis bahwa masih ada jalan lain demi kemakmuran wong cilik.

Kini, di awal masa jabatan KarSa, Manan, Mansyur, Muhadi, dan jutaan masyarakat Jawa Timur lainnya menunggu perwujudan kebijakan prorakyat dari pasangan gubernur dan wakil gubernur baru. Dengan lembaran kepemimpinan baru, bayang-bayang ketidakpastian hidup masyarakat Jawa Timur diharapkan semakin sirna.

Janji Pakde Karwo, Tiap Hari Nambal Jalan

Pada kesempatan orassi, Soekarwo menjanjikan perbaikan prasarana dan sarana di Provinsi Jatim untuk memperlancar arus perekonomian dengan tiada hari tanpa tambal jalan. Soekarwo yang akrab disapa Pakde itu mengemukakan hal itu pada orasinya bertema “Jalan lain Menuju Kesejahteraan Rakyat Jawa Timur” dengan didampingi Wagub Saifullah Yusuf masing-masing beserta istri.

“Kami akan meminta keteladanan aparatur birokrasi untuk bekerja keras memperbaiki infrastruktur, juga menanggulangi dampak bencana banjir dan bencana alam lainnya,” kata Gubernur yang baru dilantik itu.

Pemprov Jatim, katanya, juga akan mengajak pemerintah kabupaten/kota bekerja sama menanggulangi masalah pedagang kaki lima, dengan keberpihakan pada pilihan “masih ada jalan lain tanpa penggusuran”.

“Kami juga akan berupaya mencari ’jalan lain’ bagi penyelesaian masalah lumpur Lapindo, baik bagi masyarakat yang terdampak langsung maupun tidak, baik bagi mereka yang sudah menemukan jalan penyelesaian dengan korporasi maupun di luar korporasi,” katanya.

Semua upaya mencari jalan lain tersebut, ujar Pakde Karwo, tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi untuk mencapai kesejahteraan harus ada perjuangan dan pengorbanan.

Pada kesempatan yang sama, Pakde Karwo juga mengucapkan terima kasih kepada pendahulunya, yakni Gubernur Soerjo, Moerdjani, Raden Samadikoen, Ario Miliono, Suwondo, Moch. Wijono, M. Noer, Soenandar Prijosoedarmo, Wahono, Soelarso, Basofi Sudirman, dan Imam Utomo.

“Kepada Pak Imam Utomo yang mengembangkan sikap akomodatif dan mengembangkan partisipasi masyarakat, menjadi panutan kami dalam mengembangkan sikap demokrasi partisipatoris, yang memberi tempat kepada rakyat untuk berbicara,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Soekarwo, mendaulat Imam Utomo beserta istri untuk berpidato di panggung. Dalam pidatonya, Imam Utomo mengatakan, selaku masyarakat, dia siap dipanggil sewaktu-waktu oleh gubernur dan wagub untuk dimintai pendapat.

Karwo Akan Sediakan Tempat Unjuk Rasa

Sehari sebelumnya, Soekarwo berjanji menyediakan tempat unjuk rasa. Waktu unjuk rasa direncanakan pada minggu keempat di setiap bulan. Karwo mengatakan, demokrasi pada dasarnya memberikan ruang untuk publik. Ruang itu bisa dipakai untuk apa saja, terutama untuk menyampaikan aspirasi.

“Nanti akan saya sediakan satu tempat untuk menyampaikan tentang apa saja,” ujarnya di Surabaya, Rabu (11/2). Dengan cara itu diharapkan unjuk rasa bisa berkurang dan kota bisa tertib. Di sisi lain, aspirasi publik dalam bentuk apa pun bisa disampaikan.

“Nanti sebelum demo bisa memberi tahu akan menyampaikan soal apa. Lalu pemerintahan, entah dari eksekutif atau legislatif, harus hadir menemui pengunjuk rasa,” tuturnya.

Karsa Prioritaskan Atasi Banjir dan Jalan Rusak

Mengawali tugas mereka, pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf berniat menangani dua masalah besar di Jawa Timur. Permasalahan tersebut adalah banjir dan kerusakan infrastruktur jalan.

“Permasalahan yang harus ditangani saat ini adalah banjir. Ini masalah besar,” ujar Soekarwo saat berkunjung ke rumah mantan gubernur Jawa Timur, HM Noer, Selasa (10/2) di Jalan Anwari, Surabaya.

Menurut Karwo, penanganan banjir akan dititikberatkan di wilayah daerah aliran sungai Bengawan Solo yang melintasi beberapa daerah, mulai dari Ngawi, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Gresik. Agar antisipasi banjir lebih siap, Karwo akan menginstruksikan kepada seluruh kepala dinas dan jajarannya agar tak mengambil cuti di saat bahaya banjir mengancam.

“Selain penanganan banjir, persoalan mendesak lain adalah perbaikan infrastruktur jalan raya. Banyak jalan raya yang rusak dan berlubang. Tak ada pembangunan jalan baru, tetapi perbaikan jalan akan dilakukan setiap saat,” jelas Karwo.

Dalam percakapan, mantan Gubernur Jawa Timur HM Noer mengungkapkan, siapa pun yang terpilih menjadi gubernur adalah wakil rakyat. Karena itu, gubernur maupun wakil gubernur harus memahami situasi dan permasalahan masyarakat.

“Saat menjabat sebagai gubernur, 20 hari masa awal jabatan saya gunakan untuk memahami situasi dan permasalahan masyarakat,” ujar Noer. Berawal dari realitas masyarakat Jawa Timur, Noer kemudian menyimpulkan langkahnya pada tiga hal, yaitu peningkatan pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur.

Menanggapi hal tersebut, Karwo berharap masa jabatannya menjadi langkah kontinuitas pembangunan dari para gubernur pendahulu. “Saya dan Gus Ipul berusaha melanjutkan kebijakan pembangunan sebelumnya sehingga muncul kesinambungan,” ujarnya.

Baik Karwo maupun Saifullah berjanji, selama masa pemerintahan mereka akan menempatkan tokoh masyarakat dan para pendahulu dalam proses pengambilan kebijakan. Harapannya, kebijakan baru selaras dengan arah kebijakan lama.(ant,kc)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

GUS IPUL JADI WAGUB ALIRAN SESAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Komentar Terbaru

Blog Stats

  • 6,003 hits

%d blogger menyukai ini: