BANTAHAN KADER MUHAMMADIYAH

Agustus 16, 2009 at 1:43 am Tinggalkan komentar

MUHAM

Tuduhan Salah ke Muhammadiyah

Jumat, 14 Agustus 2009
Abdul Wahid Shomad
Alumni Ponpes Sidogiri, Pasuruan; aktivis FAI-Tarbiyah Unmuh Malang.

Seiring dengan penyergapan orang yang diduga Noordin M. Top di Temanggung, Jawa Tengah, dan tertangkapnya beberapa orang yang ditengarai menjadi jaringan teroris oleh Densus 88, muncul tudingan bahwa ideologi Muhammadiyah telah menjadi inkubator akar radikalisme dan terorisme di Indonesia. Tuduhan itu didasari bahwa orang-orang yang tertangkap di Temanggung dan Amrozi -yang sudah dihukum mati- berasal dari keluarga Muhammadiyah.

Untuk menjernihkan persoalan tersebut, Sekretaris PP Muhammdiyah Abdul Mu’tie dalam wawancara di TVOne Sabtu malam (8/8) memberikan penjelasan secara terbuka. Intinya, Mu’tie membantah tudingan itu.
Muhammadiyah adalah organisasi dan gerakan Islam sosial yang berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka (1912 di Jogjakarta). Muhammadiyah didirikan untuk menghapus tradisi keberagamaan umat Islam di Jawa yang kental dengan “kesyirikan” paham kejawen. Juga melawan tekanan politik dari pemerintahan Hindia Belanda yang merugikan bangsa Indonesia.
Paham keberagamaan Muhammadiyah secara umum senantiasa didasarkan atas teks Alquran dan As-sunah. Melepaskan dan membebaskan diri ikatan mazhab fikih tertentu.
Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan dalil Alquran dan As-sunah (perkataan, perbuatan, penetapan dan pengakuan Nabi Muhmmad SAW) dianggap keluar dari teks Alquran dan As-sunah. Dalam hal fikih (hukum Islam), misalnya, Muhammadiyah berpaham “bebas mazhab”. Artinya, tidak terikat oleh satu mazhab fikih saja. Sejauh paham keberagamaan mazhab fikh tersebut sesuai Alquran dan As-Sunah, itulah yang diterima paham Muhammadiyah. Tentunya dengan interpretasi-interpretasi kontekstual.
Sebuah pesan agama yang selalu diterjemahkan secara literal-tekstual memang akan menimbulkan kekakuan dan eksklusivitas dalam kehidupan beragama, bahkan bisa radikal dan fundamental. Salah satu contoh adalah pemahaman tentang jihad. Jihad jika diartikan secara literal-tekstual akan bermakna “qital dan muqotalah”. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “memerangi musuh (orang yang mengufuri ajaran Allah)”, sebagaimana dalam Al-Qomus Al-Fiqh dan Al-Qomus Al-Muhith dengan landasan Alquran dalam surat At-Taubah: 74, “Ya ayyuhannabiyyu jahidil kuffaro…”. Artinya, perangilah orang-orang kafir! Dan berdasar hadits Nabi Muhammad SAW, “jahidil musyrikina”. Artinya, lakukanlah jihad terhadap orang-orang musyrik!
Kata “jahidi” dalam ayat Alquran dan hadis di atas secara tekstual berarti memerangi orang kafir dan musyrik secara fisik atau qital dalam bahasa Arab. Berdasar pemahaman tekstual, ayat itu memerintah umat Islam agar memerangi orang-orang yang tidak sepaham dan tidak sesuai dengan ideologi tekstualitas Alquran dan As-sunah secara umum.
Dengan demikian, pemahaman dan pemaknaan terhadap pesan keberagamaan yang tekstualis, dalam konteks jihad misalnya -dari gerakan Islam mana saja dan dari siapa saja- sangat berpotensi menjadi akar radikalisme dan terorisme.
Lalu, apakah Muhammadiyah berpotensi menjadi pengeram dan penetas radikalisme-terorisme lantaran keberagamaannya berdasar langsung tekstualitas Alquran dan As-sunah? Jawabannya ”tidak”. Asumsi bahwa pemahaman tekstualitas Alquran dan As-sunah yang ada di Muhammadiyah akan menggiring seseorang untuk berpikir radikal dan fundamental adalah kurang bijaksana, bahkan tidak benar.
Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Abdul Mu’tie, Muhammadiyah sebagai gerakan sosial keagamaan tidak berpaham radikalisme dan fundamentalisme, apalagi terorisme. Buktinya, Muhammadiyah menerima Pancasila sebagai dasar dan ideologi berbangsa dan bernegara. Padahal, Pancasila bukanlah ideologi yang langsung berdasar tekstualitas Alquran dan As-sunah.
Tidak benar jika lantaran selalu berpaham Islam dengan dasar tekstualitas Alquran dan As-sunnah, Muhammadiyah dikatakan berpeluang besar untuk menjadi “inkubator” penetas radikalisme, fundamentalisme, dan terorisme. Munculnya radikalisme dan terorisme semata-mata karena pemahaman individu (yang sekarang terorganisasi dalam jaringan teroris) yang tidak komprehensif dan tidak bisa mengontekstualisasikan pesan agama. Padahal, teks agama harus dipahami secara komprehensif dan kontekstual. Tidak bisa dipahami sepotong-sepotong.
Andaikan ada orang seperti Amrozi yang berasal dari keluarga Muhammadiyah menjadi teroris, bukan berarti itu akibat pemahaman tekstualitas keberagamaan Muhammadiyah. Tetapi, ada faktor eksternal dan mindset yang memengaruhinya. Realitasnya, terorisme yang meracuni otak Amrozi itu muncul setelah bertemu dan bergabung dengan jaringan teroris Dr Azhari dan Noordin M. Top.
Muhammadiyah tetap memahami teks-teks agama secara universal dan kontekstual; tidak radikal dan fundamental. Andaikan Muhammadiyah dikatakan “tekstual”, boleh jadi tekstualitasnya hanya berkisar dalam hal ritual-vertikal kepada Tuhan agar bersih dari kesyirikan dan sinkretisme, atau dalam kamus Muhammmadiyah diistilahkan dengan “takhayul, bid’ah, dan khurafat” (TBC); bukan dalam hubungan sosial kemasyarakatan, berbangsa, dan bernegara (muamalah).
Sungguhpun demikian, harus diakui bahwa cara pandang yang kaku terhadap suatu teks agama secara umum memang akan membuat mindset seseorang menjadi eksklusif, radikal, dan fundamental. Contohnya, pemahaman jihad berdasar tekstualitas ayat dan hadis di atas, yang berarti memerangi secara fisik terhadap orang lain yang tidak sepaham. Padahal, jihad -menurut literatur fikih As-Syafi’i- tidak sesempit itu. Memerangi fisik hanya dalam konteks mempertahankan diri dan melawan orang yang menganiaya umat Islam. Sebab, tujuan substansial dari jihad adalah mengajak orang lain yang kufur dan syirik agar beriman dan berislam secara sempurna.
Dengan demikian, jihad lebih utama dan lebih bijaksana direalisasikan melalui dialog (As-Syeikh Ad-Dimyathi dalam I’anatuthalibin). Karena itu, pahamilah pesan agama dengan komprehensif dari berbagai sudut pandang secara kontekstual, kearifan, dan kebijaksanaan (wisdom). Akhirnya, terciptalah kedamaian dalam kehidupan. ***


Entry filed under: MUHAMMADIYAH. Tags: .

HABIB RIZIEQ KECAM FPI PACIRAN RIWAYAT ULAMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Komentar Terbaru

Blog Stats

  • 6,003 hits

%d blogger menyukai ini: